Monday, December 3, 2018

Film: Media Sebagai Hambatan Untuk Mengembangkan Pekerjaan Guru




Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara merupakan salah satu film Indonesia yang ditulis oleh Jujur Prananto dan diproduksi oleh Hamdhani Koestoro pada tahun 2016. Film tentang guru seperti ini sangat terkenal di Negara-negara yang pekerjaan guru dihormati. Bukan hanya cerita yang drama diceritakan,  stereotip atau moralitas guru juga diceritakan.


Biasanya, cerita-cerita tentang guru dimulai dengan guru yang kaya, dia tinggal di kota. Misalnya, dalam film “Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara” Aisyah, guru yang baru wisuda memutuskan pindah dari rumah yang sangat bahagia di Jawa Barat ke Dusun Derok yang sangat miskin di Kabupaten Timur Tengah Utara untuk mengajar. Gajinya sangat sedikit.

Toleransi antara agama Kristen dan Islam sangat ditekankan. Menurut saya, ini sangat bermanfaat untuk membuka kesempatan kepada orang Indonesia untuk melatih toleransi karena Indonesia memiliki beragam budaya. Namun, apa yang menjadi hambatan untuk mengembangkan pekerjaan guru seringkali terjadi.

Dengan film seperti ini, moralitas guru didefinisikan sebagai orang yang memilih untuk menjadi orang miskin yang bekerja untuk anak-anak, bukan untuk uang. Oleh karena itu, gambaran seorang guru atau dosen artinya miskin tapi moralitas yang berlawanan dengan pengusaha yang kaya tapi egois. Maksudnya, pemerintah tidak harus menbantu atau mengkembangkan pekerjaan guru karena kalau guru mendapatkan banyak gaji artinya mereka tidak mempunyai moralitas dan mereka mengajar karena uang.

Sampai saat ini, gaji pekerjaan guru di negara-negara yang percaya moralitas ini masih sedikit. Beberapa keluarga mendorong anak mereka jadi guru meskipun mereka mengetahui bahwa pekerjaan ini susah untuk jadi kaya. Bukan hanya stabilitas kehidupan setelah pensiun, tetapi dengan moralitas pengorbanan seorang guru yang dibuat oleh budaya dan dihormati oleh masyarakat di negara seperti itu.

Jika kita mengamati, pekerjaan guru dengan gaji sedikit biasanya bisa dilihat dalam negara yang belum berkembang. Menurut mereka, guru bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi contoh moralitas yang harus diikuti oleh murid. Inilah adalah perbedaan antara kepercaayaan Asia dan Barat. Pemerintah dan produser film di Asia lebih memilih untuk menekankan moralitas dari pada mengusulkan bahwa bagaimana mengembangkan kehidupan guru di zamam modern ini. 

Jesada Buaban
3 December 2018

No comments:

Post a Comment